- Back to Home »
- BAB 1 »
- B. SEJARAH INTERNET INDONESIA
Posted by : Unknown
Minggu, 15 November 2015
Sejarah internet Indonesia bermula pada awal tahun 1990-an. Saat
itu, jaringan Internet di Indonesia lebih dikenal sebagai Paguyuban Network. M.
Samik-Ibrahim, Suryono Adisoemarta, Muhammad Ihsan, Robby Soebiakto, Putu,
Firman Siregar, Adi Indrayanto, Onno W. Purbo adalah sejumlah nama legendaris
di awal pembangunan Internet Indonesia (tahun 1992 hingga 1994).Masing-masing
telah menyumbangkan keahlian dan dedikasinya dalam membangun fondasi jaringan
komputer dan Internet di Indonesia. Tulisan-tulisan awal mengenai Internet di
Indonesia terinspirasi oleh kegiatan amatir radio pada tahun 1986, khususnya di
Amatir Radio Club (ARC) ITB. Bermodal pesawat radio pemancar Single Side Band
(SSB) Amatir Radio Kenwood TS430 milik Harya Sudirapratama (YC1HCE) dan
komputer Apple II milik Onno W. Purbo (YC1DAV), belasan anak muda ITB seperti
Harya Sudirapratama (YC1HCE), J. Tjandra Pramudito (YB3NR), dan Suryono
Adisoemarta (N5SNN) berguru pada para senior amatir radio seperti Robby
Soebiakto (YB1BG), almarhum Achmad Zaini (YB1HR), Yos (YB2SV) melalui band
amatir radio 40 m atau 7 MHz. Mereka mulai mendiskusikan teknik membangun
jaringan komputer dengan radio menggunakan teknologi radio paket.Robby
Soebiakto yang waktu itu bekerja di PT. USI IBM Jakarta merupakan pakar di antara
para amatir radio di Indonesia, khususnya di bidangkomunikasi data packet
switching melalui radio yang dikenal sebagai radiopaket. Teknologi radio paket
TCP/IP untuk Internet kemudian diadopsi olehrekan-rekan Robby Soebiakto di
BPPT, LAPAN, UI, dan ITB yang kemudian menjadi tumpuan PaguyubanNet antara
tahun 1992-1994.
Pada tahun 1988, melalui surat pribadi, Robby Soebiakto mendorong Onno
W. Purbo yang saat itu berada di Hamilton, Ontario, Kanada untuk mendalami
teknik jaringan Internet berbasis protokol TCP/IP. Robby Soebiakto meyakinkan
Onno W. Purbo bahwa masa depan teknologi jaringan komputer di dunia akan
berbasis pada protokol TCP/IP. Hal ini yang di kemudian hari memicu penulisan
buku-buku jaringan komputer Internet berbasis TCP/IP oleh Onno W. Purbo maupun
rekan-rekan penulis lainnya di Indonesia untuk memandaikan rakyat Indonesia
akan teknologi Internet. Robby Soebiakto juga menjadi koordinator alamat IP
pertama dari AMPR-net (Amatir Packet Radio Network) yang di Internet dikenal
dengan domain AMPR.ORG dan IP 44.132. AMPR-net Indonesia kemudian dikoordinir oleh
Onno W. Purbo sejak tahun 2000. Salah satu aktivitas AMPR-net adalah mengkoordinasi
aktifitas anggota ORARI melalui mailing list ORARI, orarinews@
yahoogroups.com.
Pada awal perkembangan jaringan paket radio di Indonesia, Robby Soebiakto
merupakan pionir di kalangan pelaku amatir radio Indonesia yang mengaitkan
jaringan amatir Bulletin Board System (BBS). BBS merupakan jaringan surat
elektronik (e-mail) yang merelai e-mail untuk dikirim melalui server/komputer
BBS yang mengkaitkan banyak ”server” BBS amatir radio seluruh dunia agar e-mail
dapat berjalan dengan lancar. Komunikasi antara Onno W. Purbo yang waktu itu
berada di Kanada
dengan rekan-rekan amatir radio di Indonesia terus berlanjut
hingga awal 1990-an. Dengan peralatan komputer PC/XT kompatibel dan walkie
talkie 2 meteran, komunikasi antara Indonesia-Kanada dilakukan melalui jaringan
amatir radio. Robby Soebiakto berhasil membangun gateway amatir satelit di
rumahnya di kawasan Cinere. Dengan bantuan satelit-satelit OSCAR milik amatir
radio, komunikasi lebih antara Indonesia-Kanada berjalan semakin cepat.
Pengetahuan secara perlahan ditransfer dan berkembang melalui jaringan amatir
radio ini.
Pada tahun 1992-1993, Muhammad Ihsan, seorang peneliti di LAPAN Ranca
Bungur yang pada tahun 1990-an bersama dengan pimpinannya Ibu Adrianti menjalin
kerjasama dengan DLR (Lembaga Penelitian Antariksa Jerman) mencoba
mengembangkan jaringan komputer menggunakan teknologi radio paket pada band 70
cm dan 2 m. Di kemudian hari, Muhammad Ihsan menjadi motor penggerak di LAPAN
untuk membangun dan mengoperasikan satelit buatan LAPAN Indonesia yang dikenal
sebagai LAPAN TUBSAT maupun INASAT. Jaringan LAPAN dikenal sebagai JASIPAKTA
dan didukung oleh
DLR. Muhammad Ihsan mengoperasikan relai penghubung antara ITB Bandung
dengan gateway Internet yang ada di BPPT. Di BPPT, Firman Siregar
mengoperasikan gateway radio paket yang bekerja pada band 70 cm. Komputer PC
386 sederhana yang menjalankan program NOS di atas sistem operasi DOS digunakan
sebagai gateway packet radio TCP/IP. IPTEKNET masih berada di tahapan sangat
awal perkembangannya. Tanggal tanggal 7 Juni 1994, Randy Bush dari Portland,
Oregon, Amerika Serikat melakukan ping ke IPTEKNET dan kemudian melaporkan hasilnya
kepada rekan-rekannya di Natonal Science Foundation (NSF) Amerika Serikat.
Dalam laporan Randy Bush tertera waktu yang dibutuhkan
untuk ping pertama dari Indonesia ke Amerika Serikat, yaitu sekitar
750 mili detik melalui jaringan leased line yang berkecepatan 64 Kbps.
Nama lain yang tidak kalah berjasa adalah Pak Putu. Beliau mengembangkan
PUSDATA DEPRIN pada masa kepemimpinan Menteri Perindustrian Tungki Ariwibowo
sekaligus menjalankan BBS pusdata.dprin. go.id. Di masa awal perkembangan BBS,
Pak Putu berjasa mempopulerkan penggunaan e-mail, khususnya di Jakarta. Aktivitas
Pak Putu banyak didukung oleh Menteri Perindustrian Tungki Ariwibowo yang
sangat menyukai komputer dan Internet. Pak Tungki adalah menteri pertama
Indonesia yang menjawab e-mail sendiri. Pada akhir tahun 1992, Suryono
Adisoemarta kembali ke Indonesia.
Kesempatan tersebut tidak dilewatkan oleh anggota Amatir Radio
Club (ARC) ITB seperti Basuki Suhardiman, Aulia K. Arief, Arman Hazairin yang didukung
oleh Adi Indrayanto untuk mencoba mengembangkan gateway radio paket di ITB.
Seperti tampak pada Gambar 1.1, gateway tersebut menggunakan sebuah komputer
286 bekas, perhatikan baik-baik disket-nya yang berukuran besar. Pada hari ini,
disket jenis tersebut sudah tidak di produksi lagi. ITB akhirnya turut
berkiprah di jaringan PaguyubanNet. Institusi lain seperti UI, BPPT, LAPAN,
PUSDATA DEPRIN yang lebih dahulu terhubung ke jaringan Internet mempunyai
fasilitas yang jauh lebih baik daripada ITB. Di ITB, modem radio paket berupa
Terminal Node Controller (TNC) merupakanperalatan pinjaman dari Muhammad Ihsan
dari LAPAN. Ketika masih menempuh studi di University of Texas di Austin, Texas,
Suryono Adisoemarta menyambungkan TCP/IP Amatir Radio Austin ke gateway
Internet untuk pertama kalinya di gedung Chemical and Petroleum Engineering
University of Texas, Amerika Serikat. Sejak saat itu, komunitas Amatir Radio
TCP/IP Austin Texas tersambung ke jaringan TCP/NIP di seluruh dunia. Pengetahuan
inilah yang kemudian diterapkan Suryono Adisoemarta saat mengembangkan radio paket
di ITB. Suryono Adisoemarta yang kemudian hari menyandang nama panggilan YD0NXX
menjadi motor penggerak teknologi satelit Amatir Radio maupun teknologi Amateur
Packet Reporting System (APRS) yang memungkinkan kita untuk melihat posisi-posisi
stasiun amatir radio di peta di Internet yang dapat dilihat disitus http://aprs.fi. Berawal dari teknologi radio paket
kecepatan rendah 1200 bps, ITB kemudian memperoleh sambungan 24 jam 14.4 Kbps
ke RISTI Telkom sebagai bagian dari IPTEKNET pada tahun 1995. Akses Internet
tetap diberikan secara cuma-cuma kepada rekan-rekan yang lainnya khususnya di
PaguyubanNet. September 1996 merupakan tahun peralihan bagi ITB, karena keterkaitan
ITB dengan jaringan penelitian Asia Internet Interconnection Initiatives (AI3)
sehingga memperoleh bandwidth 1.5M bps ke Jepang yang terus ditambah dengan
sambungan ke TelkomNet & IIX sebesar 2 Mbps. ITB akhirnya menjadi salah
satu bagian terpenting dalam jaringan pendidikan di Indonesia yang menamakan
dirinya AI3 Indonesia yang mengkaitkan lebih dari 25 lembaga pendidikan di
Indonesia di tahun 1997-1998. Jaringan pendidikan menjadi lebih marak pada saat
naskah buku ini di tulis di tahun 2009, dengan adanya JARDIKNAS dan INHEREN
yang dioperasikan oleh DIKNAS dan mengkaitkan sekitar 15.000 lebih sekolah Indonesia
ke Internet yang akan menjadi media untuk mencerdaskan bangsa
Indonesia agar dapat berkompetisi di era globalisasi mendatang.